SAYA "HANYALAH" DAN BUKAN "ADALAH"
Terdapat tiga hal, yaitu; Nasab, Nasib, dan Nishob.
Ketiganya sama-sama penting bagi situasi dan kondisinya masing-masing.
Menyoal mana yang lebih penting dari ketiga hal tersebut telah terjawab oleh Alqur'an [Q.S. Al-Isro', 70], bahwasanya niscaya sungguh Allah SWT memuliakan kita selaku anak-cucu sampai seluruh keturunan Nabi Adam as., yakni semua manusia yang ada diantara kita.
Mengenai hal ini jelas sekali kita dimuliakan sebagaimana manusia-manusia yang sejatinya tetap pada fitrahnya kita sebagai manusia pada umumnya, bukan menurut atribut sebagai ini dan itu atau juga bukan sebab reputasi menjadi seorang yang begini dan begitu.
Menurut ayat Al-Qur'an tersebut maknanya akan lebih-lebih mengena bilamana redaksi bahasanya disajikan versi bahasa pesantrenan :
ولقد كرّمنا بنى أدم …
“~wa-laqod karromNaa~ lan yektine temmen-temmen {makno lam tawkid + qod huruf tawkid} mulyakno tenanan sopo Ingsun (Gusti Alloh) ~bany Aadama~ ing anak-putu keturunane Nabi Adam kabeh…”
Jadi, dapat ditarik kesimpulan bahwa Nasab itu kemuliaan yang menandakan kita siapa, dan Nasib itu pembuktian yang menentukan kehidupan kita bagaimana, serta Nishob itu hasil akhir perhitungan antara keduanya (siapa dan bagaimana kita-kita pada akhirnya).
Maka, secara implisit (tersirat terkait nasab-nasib-nishob) seseorang dengan rendah hati akan berkata; memang saya "hanyalah" dan bukan "adalah".
إِن كُلُّ مَنْ فِي ٱلسَّمَاوَاتِ وَٱلْأَرْضِ إِلَّآ ءَاتِي ٱلرَّحْمَانِ عَبْدًا {سورة مريم؛ ٩٣}
“Tiada seorang pun di langit dan di bumi, melainkan pasti akan datang kepada (Allah) Dzat Yang Maha Pengasih itu hanya sebagai seorang hamba.” |[Q.S. 19:93]|
__
||
Komentar
Posting Komentar