Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2024

SEGALA SESUATU ADA HIKMAHNYA

Kanjeng Nabi SAW beliaulah sebaik-baiknya manusia dengan segala sesuatu kelebihannya, dan itu tanpa tapi, dititik ini. Manusia sejati sepaling mulianya manusia, dan sepaling bijaknya mengerti manusia, serta sepaling mumpuninya memanusiakan manusia. "Muhammadun basyarun laysa kal-basyari". Hanya saja, beliau adalah merupakan manusia yang —dalam hal keistimewaannya— tidak sama dengan manusia pada umumnya. Termasuk dalam artian kita sama-sama makhluk sesama manusianya dengan beliau dari segi basyariah-nya atau sisi kemanusiaannya, yang mana pada satu sisi kita memang serupa tapi tak sama. محمّد بشر ليس كالبشر “~Muhammadun~ utawi Gusti Kanjeng Nabi Muhammad iku ~basyarun~ menungso ~laysa~ oraono sopo Kanjeng Nabi (oraono iku {khobare laysa}) ~kal-bayari~ (ora) koyokdene lumrahe sepodo-podo menungsane” HIKMAHNYA TIDAK DAPAT MENULIS DAN MEMBACA Beliau tidak dapat menulis ataupun membaca, akantetapi disinilah terdapat sebuah petikan hikmahnya tersendiri. Apa hikmahnya? Kalaulah beli...

TELEPATI KEKASIH

Seseorang merasa dirinya terpuruk sebab sangat sedih,, saat dimana ia tidak berhasil membuat seorang kekasih - tetap harus berbalik kepadanya sebagai tempat kembali.. Empati bukanlah egosentris pribadi,, akantetapi hal ini - tidak lain dan tidak bukan demi bersama mencari solusi..

'UBUDIYYAH & MU‘AMALAH

Tidak lain dan tidak bukan bahwa selaku para hamba kita semua diciptakan semata-mata berguna untuk beribadah demi menghambakan diri kepada Sang Pencipta, dan penghambaan kita ke hadiratNya disebut ibadah. [Lihat: Q.S. Adz-Dzariyat, 56] Adapun ibadah tersebut terbagi menjadi dua, yaitu; ibadah ritual dan ibadah sosial, yakni; "hablun minAllah wa-hablun minan-naas". Sehubungan dengan anekaragam ibadah pembahasannya merujuk pada ilmu-ilmu agama bagi pedoman keilmuan masing-masing agama yang bersangkutan, yang mana pedoman tersebut menurut agama Islam (Aswaja/NU) terdapat empat sumber keilmuan, pertama; Al-Qur'an, kedua; Hadits, ketiga; Ijma', dan keempat; Qiyas.

Alif

Alif adalah susunan huruf pertama pada lafazh "Allah" Tuhan Yang Maha Esa dan Alif merupakan abjad urutan pertama pada huruf-huruf Hija’iyyah serta Alif jadi satu-satunya huruf yang berbentuk lurus sekaligus bentuk-wujudnya bisa bengkok (Alif bengkong menurut istilahnya orang Jawa) itu bernama Alif Layyinah Alif pun kembali ditanya : “Kenapa Alif jelas-jelas lurus kok bisa bengkok? Alif yang notabene wong Jowo menjawab : “Lha mangkane iku ojo gopoh selak kesusu rabi talah wong gurung weruh Alif~Bengkong {ى} dadi masio Alif kui kenceng iso lemes tapi yho iso kenceng maneh kok (tenang wae;) hahah :D” ** الألف سيّد الحرف “~Al-Alifu~ utawi huruf Alif yhoiku ~sayyidul-hurufi~ dadi Gustine piro-piro huruf kabeh” —Mbah (("Adapun Alif itulah pimpinannya semua huruf"))

SAYA "HANYALAH" DAN BUKAN "ADALAH"

Terdapat tiga hal, yaitu; Nasab, Nasib, dan Nishob. Ketiganya sama-sama penting bagi situasi dan kondisinya masing-masing. Menyoal mana yang lebih penting dari ketiga hal tersebut telah terjawab oleh Alqur'an [Q.S. Al-Isro', 70], bahwasanya niscaya sungguh Allah SWT memuliakan kita selaku anak-cucu sampai seluruh keturunan Nabi Adam as., yakni semua manusia yang ada diantara kita. Mengenai hal ini jelas sekali kita dimuliakan sebagaimana manusia-manusia yang sejatinya tetap pada fitrahnya kita sebagai manusia pada umumnya, bukan menurut atribut sebagai ini dan itu atau juga bukan sebab reputasi menjadi seorang yang begini dan begitu. Menurut ayat Al-Qur'an tersebut maknanya akan lebih-lebih mengena bilamana redaksi bahasanya disajikan versi bahasa pesantrenan : ولقد كرّمنا بنى أدم … “~wa-laqod karromNaa~ lan yektine temmen-temmen {makno lam tawkid + qod huruf tawkid} mulyakno tenanan sopo Ingsun (Gusti Alloh) ~bany Aadama~ ing anak-putu keturunane Nabi Adam kabeh…” Jadi, da...

DUA MATA KITA

Gambar
Terdapat sepasang mata lahiriah kita sebagai manusia, serta ada dua jenis mata, yaitu; mata zhohir dan mata bathin. Dengan dua mata inilah kita dapat melihat dua hal, yakni; kelebihan dan kekurangan. Maka betapa pas dan alangkah pantasnya manakala kita dominan menggunakan pandangan yang baik-baik dari sudut penglihatan mata kita untuk lebih memandang ke arah sisi positif terhadap suatu kelebihan daripada kekurangan seseorang. Karena dimana ada kelebihan disitu pun ada kekurangan, begitupun sebaliknya demikian.