SEGALA SESUATU ADA HIKMAHNYA

Kanjeng Nabi SAW beliaulah sebaik-baiknya manusia dengan segala sesuatu kelebihannya, dan itu tanpa tapi, dititik ini.

Manusia sejati sepaling mulianya manusia, dan sepaling bijaknya mengerti manusia, serta sepaling mumpuninya memanusiakan manusia.

"Muhammadun basyarun laysa kal-basyari". Hanya saja, beliau adalah merupakan manusia yang —dalam hal keistimewaannya— tidak sama dengan manusia pada umumnya. Termasuk dalam artian kita sama-sama makhluk sesama manusianya dengan beliau dari segi basyariah-nya atau sisi kemanusiaannya, yang mana pada satu sisi kita memang serupa tapi tak sama.

محمّد بشر ليس كالبشر

“~Muhammadun~ utawi Gusti Kanjeng Nabi Muhammad iku ~basyarun~ menungso ~laysa~ oraono sopo Kanjeng Nabi (oraono iku {khobare laysa}) ~kal-bayari~ (ora) koyokdene lumrahe sepodo-podo menungsane”


HIKMAHNYA TIDAK DAPAT MENULIS DAN MEMBACA

Beliau tidak dapat menulis ataupun membaca, akantetapi disinilah terdapat sebuah petikan hikmahnya tersendiri. Apa hikmahnya? Kalaulah beliau bisa menulis dan membaca tentulah ayat-ayat Al-Qur'an Kalamullah itu akan semakin disangka karangannya Nabi sendiri oleh para penentang yang tidak beriman pada Firman Tuhan maupun sabda-sabda sang utusan.

Komentar